Namanya Pak Hendra, 63 tahun, pensiunan staf administrasi sebuah perusahaan distribusi di Surabaya. Setiap sore, sekitar pukul empat, dia pulang kerja — maksudnya, pulang dari kebun belakang rumah yang dia garap sejak setahun terakhir. Tapi bulan lalu, kebiasaan itu berubah. Sepulang dari kebun, dia duduk di teras, buka HP, dan mulai belajar wawancara kerja lagi.
Gue kenal Pak Hendra dari komunitas senam pagi di kampung. Waktu dia bilang mau "ikut interview lagi", reaksi pertama gue jelas: buat apa? Dia sudah punya uang pensiun, rumah sudah lunas, anak-anak sudah kerja. Tapi dia punya alasan yang sederhana dan jujur — dia bosan jadi orang yang cuma "mantan".
Kenapa Pensiunan Merasa Perlu Kerja Lagi
Ini yang sering nggak kebaca di artikel-artikel karier. Selama ini pembahasan soal wawancara kerja selalu ditujukan ke anak muda fresh graduate atau karyawan yang mau pindah. Padahal ada kelompok lain yang diam-diam ikut mencari lowongan: pensiunan.
Alasannya macam-macam. Ada yang butuh tambahan penghasilan karena biaya kesehatan naik. Ada yang ingin tetap aktif secara sosial. Ada juga yang sekadar rindu rutinitas — bangun pagi, siap-siap, berangkat, pulang. Rutinitas yang dulu dikeluhkan, sekarang malah dirindukan.
Baca juga: Anak Baru Lahir, Karier Tetap Jalan? Coba Rencana 7 Hari Ini
Pak Hendra masuk kategori ketiga. "Dulu gue mikir pensiun itu enak, bisa tidur siang tiap hari. Ternyata tidur siang tiap hari itu bikin kepala kosong," katanya suatu pagi, sambil ngeteh. Kalimat itu nempel di kepala gue.
Sebulan Latihan, Ini yang Berubah
Yang dia lakukan sebenarnya sederhana. Nggak ikut kursus mahal, nggak beli buku tebal. Tiap sore, 30 menit, dia latihan menjawab pertanyaan wawancara. Kadang sendiri di depan cermin, kadang rekam pakai HP, kadang tanya tetangga yang masih aktif kerja.
Setelah sebulan, ada beberapa perubahan yang dia rasakan sendiri. Bukan perubahan dramatis ala film, tapi cukup terasa buat dia.
1. Cara Bercerita soal Pengalaman Jadi Lebih Rapi
Awalnya, kalau ditanya "ceritakan pengalaman kerja Bapak", Pak Hendra bisa ngomong 15 menit tanpa arah. Mulai dari kantor lama, teman-teman, sampai cerita kantin. Setelah sebulan latihan, dia belajar memilih: mana yang relevan, mana yang cukup disebut sekilas.
Ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar. Pensiunan punya pengalaman puluhan tahun — justru karena itu, risikonya jawabannya melebar ke mana-mana. Latihan sebulan membuat dia sadar bahwa pewawancara butuh inti, bukan sejarah lengkap.
2. Lebih Tenang Menghadapi Pertanyaan soal Usia
Ini pertanyaan yang paling dia takutkan: "Bapak kan sudah sepuh, yakin kuat bekerja?" Sebulan pertama, dia selalu jawab defensif. "Saya masih kuat, kok!" — dengan nada yang justru menunjukkan kegugupan.
Setelah beberapa kali latihan, jawabannya berubah. Dia mulai menjawab dengan fakta: jam berapa dia biasa bangun, apa yang dia kerjakan tiap hari, bagaimana kondisi kesehatannya. Bukan pembelaan, tapi data. Menurut gue, ini perubahan paling penting — dari membela diri jadi menjelaskan.
Yang Justru Nggak Berubah
Ada satu hal yang nggak berubah dan mungkin nggak akan pernah berubah: perasaan gugup sebelum wawancara. Pak Hendra bilang, sampai hari terakhir latihan, jantungnya tetap deg-degan kalau membayangkan duduk di depan pewawancara.
Tapi dia sekarang punya cara menghadapinya. Dia menyiapkan tiga hal sebelum berangkat: satu kalimat tentang kenapa dia melamar, satu contoh pengalaman yang paling relevan, dan satu pertanyaan untuk ditanyakan balik ke pewawancara. Tiga hal kecil. Nggak menjamin lolos, tapi setidaknya dia nggak masuk ruangan dengan kepala kosong.
"Dulu gue pikir wawancara itu ujian. Sekarang gue pikir ini percakapan. Kalau salah jawab, ya tinggal jawab lagi lain kali." — Pak Hendra
Pelajaran buat Kita yang Lebih Muda
Ngobrol sama Pak Hendra bikin gue sadar satu hal: kemampuan menghadapi wawancara itu bukan bakat, tapi keterampilan yang bisa dilatih. Dan latihan itu nggak ada batas usianya.
Selama ini kita sering menganggap pensiunan sebagai orang yang "sudah selesai" urusan kerja. Padahal banyak dari mereka masih ingin berkontribusi, masih punya energi, dan yang paling penting — masih mau belajar. Sebulan latihan kecil di teras rumah bisa mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Kalau kamu punya orang tua atau kerabat yang pensiunan dan kelihatan gelisah dengan waktu luangnya, mungkin obrolan soal wawancara kerja bisa jadi pintu masuk yang menarik. Bukan untuk memaksa mereka bekerja lagi, tapi untuk mengembalikan rasa bahwa mereka masih bisa memilih.
Pak Hendra sendiri belum dapat panggilan wawancara. Tapi dia bilang, itu bukan lagi hal yang bikin dia takut. "Kalau nggak dipanggil, ya berarti belum jodoh. Yang penting gue sudah siap," katanya sambil menutup gerbang kebun. Sore itu, dia pulang kerja seperti biasa — cuma kali ini, dengan kepala yang lebih penuh rencana.