Gue pernah di posisi ini: usaha udah jalan, orderan mulai numpuk, tapi tangan kurang. Akhirnya kepikiran buat rekrut karyawan baru. Masalahnya, gue nggak pernah beneran belajar cara wawancara. Dulu pas masih kerja kantoran, ya tinggal ikutin format HR aja. Sekarang gue yang jadi HR, gue yang jadi owner, gue yang jadi semuanya. Kacau.
Kalau kamu pemilik usaha kecil yang lagi di fase sama, artikel ini buat kamu. Gue mau bagi rencana sederhana yang bisa kamu jalanin cuma dalam seminggu. Nggak perlu kursus mahal, nggak perlu baca buku 300 halaman. Cukup luangkan 30-60 menit sehari, dan minggu depan kamu udah jauh lebih siap duduk di depan calon karyawan.
Baca juga: Duit Lenyap Duluan, Baru Sadar Freelance Itu Toxic
Hari 1-2: Tulis Ulang "Kartu Skor" Posisi yang Mau Diisi
Kebanyakan pemilik usaha kecil langsung buka lowongan tanpa mikir jelas mereka butuh siapa. Akibatnya, pas wawancara, pertanyaannya ngawang. Kandidatnya juga bingung mau jawab apa.
Mulai dari sini: ambil kertas atau buka notes di HP. Tulis tiga hal.
- Tugas utama yang bakal dipegang orang ini. Bukan daftar panjang, cukup 3-5 poin yang paling sering dilakukan.
- Skill wajib versus skill bonus. Pisahkan. Jangan campur. Kalau kamu campur, kamu bakal nolak kandidat bagus cuma karena mereka nggak bisa Excel padahal yang kamu butuh sebenarnya orang jujur dan rajin.
- Red flag yang bikin kamu nggak mau lanjut. Misalnya: sering ganti kerja tiap 3 bulan, nggak bisa datang on time, atau susah komunikasi.
Di hari kedua, coba baca ulang catatan itu. Tanya diri sendiri: "Kalau orang ini masuk, apakah beban gue berkurang atau malah nambah?" Kalau jawabannya nambah, berarti kartu skornya masih salah. Perbaiki dulu.
Wawancara yang bagus itu bukan soal pertanyaan pintar. Tapi soal kamu tahu persis siapa yang kamu cari.
Hari 3: Susun 7 Pertanyaan yang Beneran Menggali
Lupakan pertanyaan klise macam "Apa kelebihan dan kekurangan kamu?" Jawabannya udah dihafal semua orang. Kamu nggak bakal dapat gambaran asli.
Gue biasa pakai pola sederhana: minta cerita, bukan minta pendapat. Orang bisa bohong soal pendapat, tapi lebih susah bohong soal cerita detail.
Contoh pertanyaan yang gue pakai sampai sekarang:
- "Ceritain satu hari paling sibuk kamu di kerjaan sebelumnya. Ngapain aja dari pagi sampai pulang?"
- "Pernah nggak kamu salah bikin sesuatu yang bikin bos atau pelanggan marah? Waktu itu kamu ngapain?"
- "Kalau ada dua tugas yang harus selesai hari ini dan kamu cuma bisa satu, gimana kamu milih?"
- "Terakhir kali kamu belajar hal baru buat kerjaan itu apa? Kenapa kamu mau belajar itu?"
- "Kenapa kamu keluar dari tempat kerja sebelumnya? Ceritain versi jujurnya."
- "Kalau gue telepon bos kamu yang lama, kira-kira dia bakal bilang apa soal kamu?"
- "Ada yang mau kamu tanyain soal tempat kerja gue? Silakan tanya apa aja."
Tujuh pertanyaan ini cukup. Nggak perlu 20. Yang penting kamu dengerin jawabannya, bukan sibuk nyari pertanyaan berikutnya di kepala.
Hari 4: Latihan Dengerin, Bukan Cuma Nanya
Ini bagian yang sering dilupain pemilik usaha kecil. Kita terlalu semangat ngejelasin soal bisnis sendiri, sampai lupa dengerin kandidat. Padahal wawancara itu dua arah.
Coba latihan sederhana. Minta teman atau pasangan kamu pura-pura jadi kandidat. Rekam suara kamu sendiri pakai HP. Terus dengerin ulang. Kamu bakal sadar, "Wah, gue ngomong 70% waktu ya?" atau "Gue motong jawaban dia terus."
Gue pernah ngelakuin ini dan malu sendiri. Ternyata gue lebih banyak cerita soal usaha gue daripada dengerin orang di depan gue. Sejak itu, gue pasang target: kandidat harus ngomong minimal 60% dari total waktu wawancara.
Kalau kamu bisa, latihan ini cuma butuh 20 menit. Hasilnya kerasa banget pas wawancara beneran.
Hari 5-6: Bikin Sistem Nilai yang Simpel
Masalah pemilik usaha kecil biasanya bukan nggak bisa ngejudge orang. Masalahnya, kita ngejudge pakai feeling. Dan feeling gampang ketipu sama orang yang pintar ngomong.
Bikin sistem nilai sederhana. Misalnya skala 1-5 untuk tiga hal:
- Kecocokan skill — bisa nggak dia ngerjain tugas utamanya?
- Sikap kerja — dari cerita-ceritanya, dia tipe yang bisa diandalkan atau nggak?
- Kecocokan sama tim kecil kamu — kamu yakin nggak bakal ribut tiap hari?
Total skor maksimal 15. Kalau di bawah 9, jangan direkrut. Sesimpel itu. Kamu nggak perlu bikin form panjang atau aplikasi HR mahal. Cukup tulis di buku, kasih skor setiap habis wawancara.
Hari keenam, coba review skor-skor ini bareng satu orang kepercayaan kamu. Bisa pasangan, bisa teman sesama pemilik usaha. Kadang mata orang lain lebih jernih daripada kita yang udah capek.
Hari 7: Wawancara Beneran Pertama, Evaluasi Setelahnya
Hari terakhir, kamu wawancara satu kandidat beneran. Nggak usah takut salah. Yang penting kamu jalanin semua yang udah kamu siapin: kartu skor, tujuh pertanyaan, sistem nilai, dan dengerin lebih banyak.
Setelah kandidat pulang, jangan langsung lanjut kerjaan lain. Duduk 10 menit. Tulis tiga hal:
- Apa yang berjalan lancar?
- Apa yang bikin kamu nggak nyaman atau bingung?
- Satu hal yang mau kamu ubah untuk wawancara berikutnya?
Gue jamin, wawancara pertama bakal terasa canggung. Wawancara kedua masih agak aneh. Tapi di wawancara ketiga atau keempat, kamu bakal ngerasa lebih tenang. Dan yang lebih penting, kamu bakal lebih sedikit salah rekrut.
Salah rekrut itu mahal, lho. Bukan cuma soal gaji yang kebuang, tapi energi kamu, waktu training, dan mood tim yang bisa rusak. Jadi seminggu investasi buat belajar wawancara itu murah banget dibanding ongkos salah orang.
Kalau kamu lagi di tengah proses cari karyawan sekarang, coba jalanin rencana ini minggu depan. Nggak perlu sempurna. Yang penting mulai. Nanti cerita ke gue, gimana hasilnya.