Gue bukan tipe orang yang betah di satu tempat. Pekerjaan gue beberapa tahun terakhir ini bikin gue hampir tiap minggu ganti kota, ganti hotel, ganti bandara. Awalnya cuma rutinitas melelahkan: antre check-in, nunggu boarding, duduk diam berjam-jam. Tapi lama-lama, di ruang tunggu yang itu-itu aja, gue sadar ada banyak hal soal dunia kerja yang justru gue pelajari di sana — termasuk soal wawancara.
Kedengarannya aneh, ya. Wawancara kerja kok belajar dari bandara. Tapi coba deh ikuti dulu cerita gue.
Baca juga: Nekat Kerja Sambil Kuliah? Ini Bedanya Magang dan Part Time
Ruang Tunggu Itu Sekolah Wawancara Gratis
Tiap pagi, kalau gue lagi di bandara, gue suka ngamatin orang. Bukan buat ikut campur, cuma ngeliat gimana orang ngobrol, gimana mereka menunggu, gimana mereka bereaksi waktu penerbangan delay. Dan tanpa sadar, pola-pola itu mirip banget sama dinamika wawancara kerja.
Contoh paling gampang: orang yang grogi. Di bandara, ada penumpang yang dari jauh udah kelihatan tegang — bolak-balik cek ponsel, nanya ke petugas berkali-kali, jalan mondar-mandir. Di ruang wawancara, gue juga pernah jadi orang kayak gitu. Bedanya, dulu gue nggak sadar kalau kegugupan itu kelihatan banget dari luar.
Dari situ gue belajar satu hal: yang bikin orang kelihatan siap bukan jawabannya, tapi caranya menunggu. Penumpang yang tenang, yang duduk santai sambil baca buku atau ngopi, biasanya lebih enak diajak ngomong. Sama kayak kandidat di wawancara — yang rileks, yang nggak buru-buru, biasanya lebih meyakinkan.
Delay Itu Guru Soal Ekspektasi
Kalau kamu sering bepergian, kamu pasti tahu rasanya delay. Rencana udah matang, jam udah diatur, eh pesawatnya telat dua jam. Marah? Iya, pasti. Tapi lama-lama gue sadar, marah nggak bikin pesawat datang lebih cepat.
Nah, di dunia kerja, ini pelajaran yang mahal banget. Waktu gue pernah ngejar satu posisi yang gue pengen banget, prosesnya molor berbulan-bulan. Gue udah siapin jawaban, udah latihan, udah beli kemeja baru. Tapi hasilnya nggak kunjung datang. Frustrasi? Banget. Tapi justru dari situ gue belajar bahwa proses rekrutmen itu bukan cerminan nilai diri kita.
Delay penerbangan nggak berarti kamu salah pilih maskapai. Kadang cuma cuaca, kadang cuma antrean. Sama kayak lamaran kerja yang nggak dibalas — belum tentu kamu kurang, kadang memang timing-nya aja belum pas.
Sejak itu, gue jadi lebih santai tiap nunggu hasil wawancara. Gue tetap usaha maksimal, tapi nggak lagi gantungin harga diri ke satu email balasan.
Ngobrol Sama Orang Asing Bikin Lidah Nggak Kaku
Ini nih yang paling kerasa buat gue. Sering bepergian itu maksa kita ngobrol sama orang yang nggak kita kenal — nanya arah, ngobrol sama petugas, basa-basi sama penumpang sebelah. Awalnya canggung, lama-lama jadi biasa.
Dan ternyata, kemampuan basa-basi yang wajar itu senjata utama di wawancara kerja. Banyak orang gagal bukan karena nggak kompeten, tapi karena kaku, terlalu formal, atau malah terlalu diam. Padahal pewawancara juga manusia — mereka lebih nyaman ngobrol sama orang yang bisa diajak ngobrol balik, bukan yang jawabnya kayak baca teks.
Latihan kecil yang bisa kamu coba
Kalau kamu sering di perjalanan, coba deh mulai latihan kecil-kecilan. Nggak usah berat:
- Tanya sesuatu yang simpel ke petugas, misalnya soal gate atau jam boarding. Latih keberanian buka obrolan.
- Kalau ada kesempatan ngobrol santai sama orang sebelah, coba dengerin dulu, baru tanggepin. Ini latihan jadi pendengar yang baik.
- Perhatiin cara orang ngomong waktu ngantre — siapa yang enak diajak ngobrol, siapa yang bikin orang lain nggak nyaman. Ini refleksi buat diri sendiri.
Kedengarannya sepele, tapi efeknya nyata. Waktu gue wawancara kerja terakhir, gue nggak lagi deg-degan kayak dulu. Gue ngobrol kayak lagi ngobrol sama penumpang di ruang tunggu. Dan hasilnya jauh lebih baik.
Yang Gue Bawa Pulang dari Bandara
Dunia kerja itu nggak jauh-jauh amat dari hal-hal kecil yang kita alami sehari-hari. Kadang kita terlalu fokus belajar jawaban wawancara dari buku atau tips di internet, padahal pelajarannya ada di sekitar kita — di antrean, di ruang tunggu, di obrolan singkat sama orang asing.
Buat kamu yang sering bepergian, coba deh mulai ngeliat perjalanan sebagai latihan. Bukan cuma soal nyampe tujuan, tapi soal gimana kamu bisa lebih tenang, lebih luwes, dan lebih siap ngadepin orang. Karena pada akhirnya, wawancara kerja itu cuma satu bentuk obrolan — dan obrolan yang baik selalu dimulai dari orang yang nyaman sama dirinya sendiri.
Gue nggak bilang ini resep instan. Tapi setidaknya, tiap pagi di bandara, gue selalu pulang bawa satu pelajaran kecil. Dan pelajaran-pelajaran itu yang bikin gue lebih siap tiap kali duduk di kursi wawancara.